Kesenian Gitar Klasik Lampung atau yang lebih dikenal dengan Teti'/Ti'ti' Lampung adalah bentuk-bentuk komposisi berbasis gitar yang berkembang di daerah Lampung dari generasi ke generasi yang merupakan proses akulturasi kebudayaan yang berkembang di Lampung pada masa abad ke 16 hingga abad 19.
Berbicara tentang sejarah Teti' Lampung kita perlu mengetahui bagaimana alat musik yang bernama Gitar tercipta dan bagaimana penyebarannya sampai ke tanah Lampung, serta jenis-jenis musik yang berkembang pada zaman tersebut yang mempengaruhi terbentuknya komposisi-komposisi Teti' Lampung.
Secara etimologi nama gitar berasal dari kata Qiitsaroh (serapan kata bahasa Arab) yang artinya alat musik berdawai (Farmer 1930, hal 137). Gitar merupakan bentuk akulturasi budaya dari Timur-Tengah oleh masyarakat Andalusia. Andalusia merupakan sebuah Kerajaan Islam yang berdiri dari awal abad ke 8 sampai tahun 1492 (akhir abad ke 15). Bentuk alat musik Gitar sendiri merupakan akulturasi (proses perpaduan kebudayaan) antara Gambus Arab dan alat musik Lute. {baca sejarah Gitar}
Tahun 1492 Sultan Muhammad XII menyerah sepenuhnya pada Kerajaan Katolik Spanyol yang dipimpin oleh Ratu Isabel I dari Kastilia sedangkan kekuasaan Islam di Portugis berakhir pada tahun 1249 dengan ditaklukannya daerah Algarve oleh Afonso III. {baca sejarah Al-Andalus)
Sejak saat itu Spanyol dan Portugis mulai melancarkan kolonialisme dan pada tanggal 7 Juni 1494 diadakan perjanjian yang disebut "Perjanjian Tordesillas" yang membagi dunia luar Eropa menjadi duopoli eksklusif antara Spanyol dan Portugis. Perjanjian ini kemudian disusul dengan "Perjanjian Saragosa" pada tanggal 22 April 1529 menentukan batas spesifik untuk Spanyol disebelah Barat Eropa (Benua Amerika) sedangkan Portugis disebelah Timur Eropa (Afrika, Asia, sampai ke Indonesia).
Portugis berlayar hingga ke Indonesia melalui jalur perdagangan yang sudah dikenal berabad-abad lamanya, yaitu "Jalur Sutra" (baca Jalur Sutra/Silk Road) yang jalur perjalanannya membentang dari Eropa, menuju Afrika, semenanjung Arab, India, China, hingga Asia Tenggara. Jalur ini antara lain melewati pulau Sumatra terutama di Selat Malaka.
Proses Kolonialisme Portugis di Indonesia selain berpengaruh pada sistem pemerintahan di Indonesia dan sekitarnya juga turut serta membawa kebudayaan berbasis gitar dan kemudian melahirkan bentuk-bentuk akulturasi baru, khususnya dibidang musik antara lain kesenian Gitar Tunggal, musik Keroncong, dan lain sebagainya.
(bersambung ke bagian 2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar